PALANGKA RAYA – Anggota DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng) Yetro M Yoseph menyoroti penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Murung Raya (Mura). Pasalnya, pasokan BBM bersubsidi jenis pertalite dan biosolar di sejumlah SPBU di Kabupaten selalu cepat habis.
Anggota DPRD Kalteng dari Daerah Pemilihan (Dapil) IV, meliputi Kabupaten Barito Utara (Barut), Barito Selatan (Barsel), Barito Timur (Bartim) dan Mura itu menilai, cepat habisnya BBM bersubsidi tersebut bukan sekadar masalah kurangnya suplai, melainkan dampak dari kuota terbatas, yang diperparah lagi dengan maraknya praktik pelangsir serta jauhnya rentang distribusi.
“Kalau kurang suplai itu relatif. Yang jadi persoalan selalu itu kan yang subsidi, karena sifatnya jelas terbatas,” ujar Yetro, kepada wak media di gedung dewan beberapa waktu lalu.
Politisi PDI Perjuangan itu menjelaskan, keluhan kelangkaan selalu merujuk pada jenis pertalite dan biosolar, sementara pasokan BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Dex terpantau aman.
“Keterbatasan kuota BBM bersubsidi inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh sejumlah pihak sebagai celah bisnis yang menguntungkan. Masyarakat ikut mengantre bukan dalam kapasitas keperluan pribadi, tapi untuk melansir atau mengecer lagi sebagai usaha,” ujarnya.
Dikatakan, suburnya praktik pelangsiran tersebut juga tidak lepas dari kebiasaan masyarakat pengguna kendaraan yang menginginkan kepraktisan.
Banyak warga yang akhirnya memilih membeli BBM di tingkat pengecer pinggir jalan, karena enggan berpanas-panasan dan antre berjam-jam di SPBU.
“Masyarakat kadang berasumsi, daripada antre panjang, mending beli di luar. Padahal harga di luar itu dinamis dan pasti berbeda karena didapat dari pihak kedua atau ketiga,” pungkasnya. (red/gh)

